Skip to main content

Lowongan kerja dan orang dalam bagi masyarakat Maluku

Daniel Rahakbauw (DR)
Hampir seluruh warga masyarakat Indonesia sekarang ini sibuk mencari lapangan pekerjaan. Begitupula masyarakat Maluku yang termasuk bagian kecil dari indonesia. Yang kita ketahui  zaman sekarang bahwa lapangan pekerjaaan sudah sangat sulit didapatkan, berbeda dengan zaman dulu. Kalau zaman dulu pekerjaan yang mencari orang, sedangkan kalau zaman sekarang justru orang sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Persediaan lowongan kerja (loker) bagi masyarakat maluku merupakan impian banyak orang untuk bisa mendapatkan pekerjaaan.
Namun kenyataan yang sering kita jumpai justru malah membuat masyarakat patah semangat dan bahkan bagi masyarakat tertentu mereka lebih memilih bekerja sebagai buru bangunan, tukang ojek pangkalan, petani dan nelayan sedangkan mereka memiliki Ijasah Sarjana.

Hal ini mengapa?, salah satu alasan logis hal sedemikian terjadi kerena bagi masyarakat maluku jika seseorang ingin melamar pekerjaan di suatu instansi baik itu pemerintah maupun swasta jika dia tidak mempunyai orang dalam dia tidak akan lolos/berhasil dan jika dia memiliki orang dalam yang kuat dia akan berhasil (orang dalam sangat menentukan nasib seseorang untuk mendapatkan pekerjaan).

Hal ini berlaku hampir bagi seluruh masyarakat Maluku. Kedepanya Jika hal ini dibiarkan terjadi secara terus menerus akan membawa dampak yang buruk bagi masyarakat yang ingin melamar pekerjaan dengan usaha sendiri tanpa bantuan dari pihak lain (orang dalam). Dan bagaimana bisa generasi-generasi yang memiliki potensi yang baik bisa bekerja jika tanpa bantuan dan campur tangan pihak lain (orang dalam). Serta apakah Maluku bisa berkembang seperti daerah-daerah lain dalam infrastuktur, dunia pendidikan, bidang kesehatan, perkantoran dan lain-lain sebaginya jika kita masi berpatokan pada metode/cara seperti ini.

Harapan saya agar secepatnya hal semacam itu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, baik pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, bahkan sampai kepada pemerintah Desa. Perlu adakan survei dan perhatian khusus untuk menjawab berbagai persoalan yang terus melanda masyarakat Maluku sampai detik ini.


Ambon 02 maret 2020
Daniel Rahakbauw

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hubungan pela (Tea Bel) Masyarakat Kei dan Masyarakat Gorom

Daniel Rahakbauw & Siti Fajar Retob  Beranjak dari kekayaan budaya dan kearifan lokal (local wisdom) serta memiliki keindahan alam yang menjadi pusat perhatian masyarakat local, masyarakat nasional bahkan sampai pada masyarakat Internasional. Masyarakat kei memiliki hubungan (ikatan) yang erat dengan masyarakat yang mendiami pulau Gorom. Kedekatan inilah yang disebut dengan hubungan pela (Tea Bel) yang ada selama ratusan tahun yang lalu. Dalam sistem kemasyarakatan pela merupaka pranata sosial yang dimana tujuanya untuk memperkuat dan menjalin hubungan antara masyarakat satu dan masyarakat lain, desa satu dan desa lain, pulau satu dan pulau lain. Pela telah dikenal jauh sebelum datangnya orang-orang barat ke maluku. Dikatakan bahwa ikatan persekutuan yang kemudian dikenal dengan nama pela (Tea Bel) memperoleh perkembangan lebih lanjut dalam arti ikatan persekutuan itu maka diperoleh lagi setelah invansi orang-orang barat ke maluku. Hubungan pela antara masyarakat K...

Ritual adat desa waurtahait sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran virus corona

Daniel Rahakbauw  (DR) Sampai saat ini virus corona masih menjadi tereding topik bagi setiap permbicaraan masyarakat, baik dalam skalah internasional, nasional bahkan dalam kehidupan lokal masyarakat. Dalam upaya pemberantasan corona di Indonesia, pemerintah berusaha mengunakan segala cara untuk mencegah penyebaran virus corona di republik ini. Hal ini pula dilakukan di salah satu desa yang berada di pulau kei besar Kabupaten Maluku Tenggara yaitu desa waurtahait. Cara yang mereka lakukan agak berbeda yaitu; dengan mengunakan ritual adat sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran virus corona. Dalam perspektif masyarakat desa waurtahait wabah seperti ini pernah dialami oleh leluhur mereka dalam beberapa dekade lalu, yang dalam bahasa setempat disebut "web". Dari sisi historis, desa Waurtahait merupakan satu desa yang terdifusi seiring perpindahan masyarakat dari desa Waur. perpindahan tersebut sebagai suatu alasan untuk menjaga batas wililayah bagian Utar...

Kasta Dalam Perspektif Masyarakat Kei

Daniel Rahakbauw  (DR) Dalam struktur kehidupan masyarakat kei pada umumnya dikenal dengan sistem pengolongan dalam masyarakat yang dikenal dengan sistem kasta.  Pengertian kasta pada masyarakat tradisioan kei tidak dapat ditarik sejajar dengan sistem kasta di Bali, juga tidak dapat disamakan dengan pembagian golongan masyarakat di Eropa pada masa revolusi Industri di Inggris (Borjois dan Proletar).  Karena apabila ditelusuri, substansi penggolongan berbeda. Kasta pada masyarakat tradisional kei lebih berdasarkan jasah, keperibadiaan, tata aturan, hukum, adat istiadat, Budaya, kepemimpinan serta sejarah. Struktur kekerabatan pada masyarakat kei dapat dibagi atas tiga golongan atau kelompok sebagaimana yang kita tau bersama bahwa: Golongan pertama adalah  Mel-Mel. Strata teratas ini dapat dikatakan sebagai bangsawan yang kekuasaanya mutlak dalam setiap aspek kehidupan masyarakat. Yang termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang pendatang dan juga pend...